Thursday, 22 December 2011

Pelacur Remaja


Oleh Ryn Oedin di Remaja Muslim ·
Belum reda keterkejutan kita terhadap dokumen sebelumnya (Astaghfirullah, 63% Remaja Indonesia Berbuat Zina) , masih harus ditambah lagi dengan ditemukannya fakta tentang sejumlah siswi SMP di Jakarta yang menjadi pelacur, bukan karena paksaan atau himpitan ekonomi, tetapi semata-mata dalam rangka memenuhi tuntutan hedonisme.



Sebagaimana diungkapkan Kompas Minggu edisi 28 Desember 2008, tentang kasus 22 siswi SMP negeri di kawasan Tambora, Jakarta Barat, yang menjalani kehidupan sebagai pelacur di luar jam sekolah. Sebelum menjalani kehidupan sebagai pelacur, mereka mengawalinya dengan menjual kegadisannya seharga Rp 2 juta kepada pria pelaku zina. Selanjutnya, mereka meneruskannya menjadi pelacur dengan tarif setiap kencan Rp 300.000, di bawah koordinasi seorang mucikari/ germo yang biasa nongkrong di Taman Hiburan Rakyat Lokasari, Tamansari, Jakarta Barat.

Kasus ini terungkap secara tidak sengaja. Salah seorang guru di sekolah tersebut melihat salah seorang siswi kelas 3 memiliki handphone seharga di atas Rp 4 juta. Ia lantas menaruh curiga. Kemudian, sang guru memanggil siswi tersebut dan memeriksa telepon selulernya. Di ponsel itu sang guru mendapati beberapa pesan singkat yang isinya berupa ajakan untuk berkencan. Dari satu siswi kemudian informasi berkembang sehingga diperoleh beberapa nama siswi lainnya.

Sang guru tidak begitu saja percaya, ia kemudian menyamar sebagai pemesan, dan mengajak salah satu siswi lainnya untuk bertemu dan berkencan. Tanpa diduga, siswi yang dipesannya itu datang ke tempat yang dijanjikan. Guru yang lain ada yang ikut dalam sebuah razia yang diadakan Satpol PP DKI. Dari hasil razia, beberapa pelacur yang tertangkap ternyata siswi SMP-nya.

Para siswi itu mengaku nekat menjalani kehidupan sebagai pelacur karena silau oleh ‘keberhasilan’ seorang rekan mereka yang telah lebih dulu jadi pelacur, sehingga memiliki banyak uang dan barang-barang berharga mahal.
Perilaku remaja siswi setingkat SMP yang menjalankan kehidupan sebagai pelacur, juga terjadi di Bandung. Sebagaimana diberitakan Tribun Jabar edisi Sabtu, 30 Agustus 2008: Satpol PP Kota Bandung, dalam rangka menyambut bulan  Ramadhan menertibkan wanita malam di jalan-jalan protokol Kota Bandung, Jumat (29/8) dini hari. Berhasil dijaring 42 pelacur, salah satu di antaranya siswi SMP swasta kelas dua. Dengan alasan kemanusian, siswi SMP itu dilepaskan, setelah dinasehati. Ia menjadi pelacur karena butuh uang untuk biaya sekolah dan makan karena kedua orangtuanya tidak mampu membiayai. (http://72.14.235.132/search?q=cache:gaEuCybkccgJ:www.lodaya.web.id/%3Fp%3D1364+Siswi+SMP+Jajakan+Diri&hl=id&gl=id&strip=1)

Kalau benar ia menjadi pelacur semata-mata untuk biaya sekolah dan makan, bukan karena mengikuti gaya hidup yang hedonistis, dan benar-benar karena kedua oangtuanya tidak mampu, maka apa yang ia lakukan menjadi tanggung jawab masyarakat di sekitarnya, dan menjadi tanggung jawab pimpinan (umara, pemerintah) di lingkungan terdekatnya.

Sejauh ini penelitian tentang remaja putri yang menjalani kehidupan sebagai pelacur, pernah dilakukan di Medan oleh Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA), pada September hingga November 2007, dengan mewawancarai secara mendalam sejumlah 50 responden, di antaranya terdiri dari 14 siswi SMP dan 27 berstatus siswi SMA/SMK. (http://www.eska.or.id/news/detail/?id=27)

Dari pengakuan para responden, di sekolah mereka terdapat sejumlah teman sebaya yang juga terlibat dalam pelacuran, yang jumlahnya bervariasi antara 30 hingga 60 orang. Salah seorang responden yang masih duduk di kelas 3 SMP menuturkan, di kelasnya saja ada 15 teman sebayanya yang sudah biasa berkencan dengan pria dewasa, dengan kisaran usia 30-50 tahun. Aktivitas pelacuran itu dipraktekkan pada siang hari, kebanyakan antara jam 3 hingga jam 6 sore. Namun ada juga yang melakukannya pada malam hari.

Menurut Ahmad Sofian (Direktur PKPA), “Kami menemukan modus baru dalam bisnis seks ini, yaitu pulang sekolah tidak pulang ke rumah tetapi dibawa ke hotel. Untuk meyakinkan orangtua, teman-temannya ikut meminta izin dengan dalih mengajak renang atau jalan-jalan, sehingga orangtua anak tidak curiga.”

Para pelacur muda ini oleh orangtuanya sampai saat ini dikenal sebagai anak yang rajin sekolah, anak rumahan dan penurut dengan nasihat orangtua. Dengan demikian bukan faktor internal yang mendorong mereka menjalani kehidupan sebagai pelacur, tetapi faktor eksternal, yaitu:

  1. Sebagian besar dari mereka adalah gadis-gadis yang sudah berpacaran kelewat batas atau dikecewakan pacar (18 kasus).
  2. Mereka yang terjerat konsumerisme, ingin mengikuti gaya hidup mewah seperti punya handphone, baju bagus dan sebagainya (8 kasus).
  3. Karena diajak teman (24 kasus).
  4. Menggunakan uang sekolah (6 kasus).

Sedangkan yang menjadi faktor pemicu adalah karena keadaan mereka sudah tidak perawan lagi.

Kasus Tambora (Jakarta Barat) sebagaimana diungkapkan Wartakota dan Kompas di atas, nampaknya sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan KPKA. Sebagaimana di Tambora, pelacur muda ini mengawali dengan menjual keperawanannya dengan harga Rp 2 juta hingga Rp 5 juta. Selanjutnya mereka mendapat bayaran antara Rp 200 ribu hingga Rp 800 ribu per kencan.

Kasus yang hampir serupa juga terjadi di Bogor, Jawa Barat, sebagaimana diberitakan harian SIB edisi 14 Desember 2008. (http://hariansib.com/2008/12/14/perawan-anak-sma-rp-15-juta/). Akibat bekapan kemiskinan dan keterbatasan ekonomi orangtua untuk melanjutkan sekolah, lima siswi SMA di Kota Bogor terpaksa masuk ke dalam sindikat pelacuran yang dikendalikan seorang napi dari balik jeruji penjara. Mereka sudah menggeluti dunia pelacuran sejak SMP. Tarifnya jauh di atas pelacur cilik Tambora dan Medan. Sekali kencan, mereka dibayar Rp 5 juta. Bila masih perawan, dihargai Rp 15 juta.

Salah satu pelacur remaja ini (Ls, 18 tahun) mengaku menjadi wanita panggilan lantaran ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Ayahnya cuma seorang petani penggarap, sehingga tidak bisa membiayai keinginan Ls melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Dia tergiur menjadi pelacur remaja setelah melihat temannya yang bergaya hidup mewah. “Waktu itu saya diajak sama dia untuk kerja sampingan. Eh nggak tahunya kerja seperti ini,” katanya.

Di Surabaya April 2008 lalu pernah diungkap kasus pelacuran yang dilakoni pelajar SMP dan SMA. Terungkapnya kasus pelacur pelajar ini setelah anggota Reskoba Idik II Polwiltabes Surabaya menangkap seorang pelacur pelajar berinisial IWP di sebuah hotel. Dari pengakuan IWP, akhirnya terungkap jaringan bisnis pelacuran yang melibatkan pelajar SMP dan SMA di Surabaya. Para pelacur pelajar itu dihargai mulai Rp 500.000 hingga Rp 1,5 juta. Tersangka IWP sendiri saat pertama naik kelas III SMA kegadisannya dijual dengan harga Rp 10 juta kepada seseorang di Bali. Bahkan IWP pernah melayani tamunya yang ada di Makassar dengan imbalan Rp 2 juta. (http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=42126)

Penelitian di Medan (2007) yang didukung oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan, akan sangat disambut baik oleh rakyat Indonesia bila hal serupa dapat dilakukan di berbagai provinsi yang ada, terutama provinsi-provinsi rawan seperti DKI Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, DI Yogyakarta, dan sebagainya. Bukan mustahil, dari hasil penelitian itu kelak, akan membuat mata kita terbelalak. Namun yang paling penting, bukan bagaimana membuat mata kita terbelalak, tetapi menemukan solusinya secepat dan setepat mungkin. Sarana-sarana yang mengakibatkan rusaknya moral para remaja bahkan masyarakat pada umumnya, perlu segera dihentikan. Tontonan porno lewat televise, CD, internet, majalah, tabloid, suratkabar, buku porno dan sebagainya perlu dirazia, dan penyelenggaranya ditindak. Kalau dibiarkan, maka ancaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam cukup tegas:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ ، فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ كِتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.  (الطبرانى ، والحاكم ، والبيهقى فى شعب الإيمان عن ابن عباس ، ولفظ الحاكم : عَذَابَ الله)
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila zina dan riba telah nampak di suatu kampong, maka sungguh mereka telah menghalalkan diri-diri mereka (ditimpa) kitab (ketetapan) Allah ‘Azza wa Jalla. (HR At-Thabrani, Al-Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Ibnu Abbas. Lafal Al-Hakim: Azab Allah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Al-Bani dalam Shahihul Jami’ nomor 679, dan dishahihkan Adz-Dzahabi dalam At-Talkhish).
Al-Munawi dalam Faidhul Qadir (1/ 513) menjelaskan, artinya mereka menyebabkan jatuhnya adzab atas mereka karena mereka menyelisihi ketentuan hikmah Allah yaitu menjaga nasab (keturunan) dan tidak campur baurnya air (mani tanpa sah).  (haji/tede)


Sumber : http://rynoedin.blogspot.com/2011/11/astaghfirullah-63-remaja-indonesia.html
Load disqus comments

2 comments

comments